Resiko dan ketidakpastian pada Industri Peternakan II contoh peternakan ayam boiler
RISIKO DAN KETIDAKPASTIAN
PADA INDUSTRI PETERNAKAN
sektor perternakan merupakan salah satu bagian yang
sagat potensial untuk dikembangkan. Pegembangan sektor peternakan perlu untuk
dilakukan karena subsector ini bisa memberikan niali tambah (added value) bagi
pertanian Indonesia. Kontribusi sektor peternekan terhadap pertanian Indonesia
ditentukan oleh seberapa jauh kemampuan kita untu mengembangkan usaha
peternakan tersebut agar mempunyai prospek yang baik dipasaran. Maka hal itu
sub sektor peternakan yang ingin di bangun dimasa depan adalah yang mampu
menghasilkan produk yang dapat bersaing dipasar dan mampu berkembang secara
berkelanjutan. Karena pada hasil sektor peternakan pemerintah masih impor bibit
unggul dalam memenuhi usaha dalam sektor peternakan contohnya pada indukan
ayam.
Misalnya usaha peternakan ayam boiler merupakan
salah satu terobosan inovasi dibidang peternakan ayam dan menjadi andalan
masyarakat Indonesia. Peternakan ayam boiler mempunyai prospek yang menjajikan
dan sangat baik untuk dikembangkan. Peternakan ayam boiler mempunyai banyak
kelebihan, salah satunya adalah siklus produksi yang sangat pendek yaitu
sekitar 35 hari. Siklus produksi yang pendek ini menjadi daya tarik untuk
memulai usaha peternakan ayam. Perputaran modal yang dikeluarkan relative cepat
sehingga modal yang dikeluarkan dalam membangun usaha akan cepat kembali,
karena keuntungan akan cepat di dapatkan. Di samping itu terdapat kendala yang
cukup berat yaitu tingginya resiko yang dihadapi para pengusaha. Berbagai resiko
menjadi tantangan(berlaku juga pada setiap usaha) antara lain, perubahan cuaca,
letak geografis, lingkunngan sekitar, persaingan, penyakit ternak dan kelalaian
pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya.
Dikehidupan dunia bisnis pastinya ada istilah Resiko
(risk) dan Ketidakpastian (uncertainty). Resiko dan ketidakpastian ini juga
dihadapi oleh pelaku agribisnis. Salah satu akibat yang ditimbulkan dengan
adanya resiko dan ketidakpastian adalah kebangkrutan. Resiko adalah kemungkinan
kegagalan yang dapat diprediksi, sedangkan ketidakpastian adalah kemungkinan
kegagalan yang tidak dapat diprediksikan.
Resiko
menunjukan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh
pembuat keputusan berdasarkan pengalaman (Robinson dan Barry, 1987)
Ketidakpastian
adalah sebuah situasi dimana pengambil keputusan tidak mengetahui hasil
dari setiap tindakan ketika keputusan dibuat, hal ini disebabkan dalam setiap
tindakan memiliki lebih dari satu peluang (fleiser, 1990) contoh ketidakpastian
: peternak ayam boiler mengalami kegagalan panen karena penyebaran penyakit New
Castle Disease (Tetelo) atau akibat Avian Influenza
Pengertian
Resiko
Resiko
Adalah besarnya penyimpangan antara tingkat pembelian yang diharapkan dan
tingkat pengembalian yang dicapai secara nyata (actual return), semakin besar
penyimpangan samakin besar tingkat resikonya (Halim,2002: 34)
Resiko menurut Vaughan :
- Risk Is The Chance Of Loss (Resiko Adalah Kans Kerugian) Chance of loss biasanya dipergunakan untuk menunjukan suatu kejadian dimana terdapat sesuatu keterbukaan (Exposure) terhadap kerugian atau suatu kemungkinan kerugian.
- Risk Is The Possibility Of Loss (Resiko Adalah Kemungkinan Kerugian)Possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu.
- Risk Is Uncertainty (Resiko Adalah Ketidakpastian)Tampaknya ada kesepakatan bahwa resiko berhubungan dengan ketidakpastian.
Jenis-jenis
Resiko
- Resiko
Berdasarkan Sifat :
a. Resiko
Spekulatif (Speculative Risk) yaitu resiko yang memang sengaja diadakan untuk
mengharapkan hal-hal yang menguntungkan.
b. Resiko
Murni (Pure Risk) yaitu resiko yang tidak sengaja, yang jika terjadi dapat
menimbulkan kerugian yang secara tiba-tiba.
- Resiko
berdasarkan dapat tidaknya dialihkan :
a. Resiko
yang dapat dialihkan, yaitu resiko yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai
objek terkena resiko kepada perusahaan asuransi dengan membayar sejumlah premi.
b. Resiko
yang tidak bisa dialihkan, yaitu semua resiko yang termasuk dalam resiko
spekulatif yang tidak dapat dipertanggung jawabkan pada perusahan asuransi.
- Resiko
berdasarkan asal timmbulnya
a. Resiko
Internal, yaitu resiko yang berasal dari dalm perusahaan.
b. Resiko
Eksternal, yaitu resiko yang berasal dari luar perusahaan atau lingkungan luar
perusahaan.
Penyebab
Resiko
Terdapat
dua faktor yang bekerja sama yang menimbulkan kerugian yaitu bencana (peril) dan bahaya (hazard). Bencana (peril) didefinisikan
sebagai penyebab langsung kerugian. Orang-orang dapat terkena kerugian atau
kerusakan karena berbagai peril/becana. Misalnya ada kebakaran, angin topan, penyakit, kecerobohan dll. Bahaya (hazard), yaitu keadaan yang
menimbulkan atau meningkatkan terjadinya chance of loss (kemungkinan kerugian)
dari suatu bencana tertentu.
Bahaya dapat diklasifikasikan dalam 4 bentuk yaitu (Herman darmawi
2014:22)
- Physical Hazard yaitu suatu kondisi yang bersumber pada karakteristik secara fisik dari suatu objek yang dapat memperbesar terjadinya suatu kerugian. Misalnya pada musim kemarau yang panjang hutan-hutan mengalami kekeringan, bila angina bertiup kencang pokok pohon-pohon itu aering bergesekan dan menimbulkan suatu panas yang mudah menimbulkan percikan api. Pada kondisi seperti itu dapat memperbesar kemungkinan bahaya kebakaran.
- Moral Hazard yaitu suatu kondisi yang berasal dari orang yang bersangkutan yang berkaitan dengan sikap mental atau pandangan hidup serta kebiasaannya yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya suatu bencana ataupun suatu kerugian. Misalnya suatu hari rumah yang dipertanggungkan terbakar, sebenarnya kebakaran itu dapat dicegah seandainya ia berusaha memadamkan sewaktu api kecil. Namun hal itu tidak dilakukan,dalam kondisi demikian itu tampak sikap mental dari orang yang bersangkutan yaitu memperbesar kemungkinan-kemungkinan terjadinya suatu kerugian.
- Morale Hazard yaitu bahaya yang ditimbulkan oleh sikap ketidak hati-hatian dan kurangnya perhatian sehingga dapat meningkatkan terjadinya kerugian. Misalnya seseorang yang memiliki mobil dan ia telah mengansurasikannya, karena merasa bahwa mobilnya telah diasuransikan maka sering kali sikapnya kurang hati-hati. Sikap yang seperti itu akan memperbesar kemungkinan terjadinya suatu peril atau kerugian. Bedanya bahaya moral dan morale: bahaya moral timbul apabila si tertanggung menciptakan kerugian untuk mendapatkan keuntungan berdasarkan polis asuransi, sedangkan bahaya morale timbul karena si tertanggung tidak melindungi hartanya atau ia menjadi lalai karena merasa hartanya diasuransikan.
- Legal hazard yaitu seringkali berdasarkan peraturan-peraturan ataupun perundang-undangan yang bertujuan melindungi masyarakat justru diabaikan ataupun kurang diperhatikan sehingga dapat memperbesar terjadinya suatu peril. Misalnya adanya keharusan asuransi kecelakaan kerja untuk para karyawan perusahaan yang relative besar karena sudah memenuhi hal tersebut maka kewajiban-kewajiban dalam hukum lainnya seperti keselamatan kerja, jam kerja berkelanjutan sering diabaikan.
Sumber Resiko
Sumber resiko dapat diklasifikasikan
menjadi berikut:
- Resiko Sosial, sumber utama resiko ini adalah masyarakat, artinya tindakan orang-orang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan yang merugikan dari harapan kita. Contohnya : pencurian, perusakan, peperangan, dsb.
- Resiko Fisik, sebagian besar resiko ini berasal dari fenomena alam, sedangkan kesalahan yang lainnya disebabkan oleh kesalahan manusia. Contoh : kebakaran (dapat disebabkan dari alam atau keteledoran manusia), cuaca (banjir, kekeringan, badai dsb),
- Resiko Ekonomi yaitu resiko yang dihadapi perusahaan banyak bersifat ekonomi. Contohnya : inflasi, fluktuasi lokal, ketidakstabilan perusahaan dsb.
Sedangkan untuk faktor risiko di bidang peternakan berasal dari:
• Produksi
• Harga dan pasar
• Usaha dan finansial
• Teknologi
• Kerusakan
• Faktor manusia
Alternatif
pengambilan keputusan dalam analisis
risiko dan ketidakpastian (Downey et al, 1987):
- Wald (strategi maksimin)
Penentuan strategi dengan menentukan hasil terburuk dari setiap
tindakan, kemudian memilih yang terbaik dari antara yang terburuk.
2. Maksimax
Penentuan strategi dengan memilih
kondisi yang terbaik dari kondisi yang terbaik atau sikap
optimis karena mengabaikan kejadian terburuk yang mungkin akan
selalu terjadi.
3. Hurwich
(strategi alfa)
Perlu memilih koefisien
optimisme dan pesimisme dimana besarnya koefisien tergantung
tingkat optimisme/pesimisme seorang manajer:
0 < α < 1.
4.
Savage (strategi ketidakberuntungan minimaks)
Menetapkan
kriteria ketidakberuntungan yang merupakan biaya kesempatan (biaya
oportunitas).
Ketidakberuntungan
merupakan perbedaan absolut antara hasil taruhan dari tindakan
tertentu dengan hasil taruhan tertinggi yang terdapat pada keadaan perekonomian.
Masing
– masing tindakan dihitung
ketidakberuntungan maksimum dan kemudian memilih tindakan yang menghasilkan
ketidakberuntungan terkecil diantara yang maksimum.
5.
Laplace/Bayesian,
mengasumsikan
bahwa probabilitas dari setiap keadaan perekonomian dalam kondisi berimbang
(strategi jangka panjang).
Analisis risiko pada sistem kemitraan ayam broiler
• Peternak dengan sistem kemitraan beranggapan
bahwa semakin besar skala usaha tidak membuat peternak takut terhadap risiko
karena sudah ada jaminan kepastian harga dari inti.
• Bagi peternak plasma, harga sapronak dan harga
produk (ayam) ditentukan oleh inti yang
termuat dalam kontrak.
• Bagi
peternak mandiri, harga sapronak dan
harga produksi ditentukan oleh harga pasar.
à
peternak
mandiri lebih leluasa untuk mendapatkan sapronak dengan harga yang lebih rendah
dari pada harga yang dibayar plasma dan menjual produk dengan harga yang lebih
tinggi daripada harga yang diterima plasma
à
peternak
mandiri mempunyai peluang lebih untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi dari pada peternak plasma.
• Namun demikian, perusahaan inti dalam
mengembangkan usahanya dapat berperilaku yang mengakibatkan keadaan harga
sapronak dan harga produksi merugikan peternak mandiri.
• Keadaan yang tidak terprediksi misalnya harga produksi turun dapat menyebabkan pendapatan
peternak mandiri turun bahkan
negatif.
• Usaha ternak pola mandiri diduga menghadapi
risiko harga yang lebih besar dibanding pada peternak pola kemitraan.
• Hal ini disebabkan karena peternak mandiri
menghadapi risiko dari beberapa sebab yi pendapatan, harga DOC, harga pakan,
dan produksi
• Peternak plasma hanya menghadapi satu risiko,
yakni risiko karena sifat usaha ternak ayam broiler itu sendiri.
• Sementara risiko harga produksi, harga sapronak, dan risiko secara
teknis ditanggung oleh inti.
• Bagi peternak mandiri, harga produksi ayam
broiler yang turun , harga
sapronak (DOC, pakan, ovk) tidak turun à peternak mandiri mengalami kerugian, bahkan
pendapatan negatif.
• Pada peternak plasma, harga produksi ayam broiler
yang turun, harga DOC, harga pakan, dan harga ovk (obat, vitamin, vaksin
dll) yang tidak turun, tidak merugikan àharga – harga tersebut merupakan harga kontrak, sehingga apabila rugi ditanggung inti.
Walaupun
risiko usaha pada peternak mandiri paling besar, namun sebagian dari mereka tetap bertahan. Motivasinya adalah:
- Dalam berusaha ternak tidak senang dibawah
pengaturan orang lain,
- Adanya kepercayaan diri yang tinggi, yakni
keputusan yang diambil adalah paling baik untuk usahanya
- Akan mendapatkan keuntungan lebih tinggi
dibanding dengan peternak plasma, apabila tidak ada penurunan harga daging
ayam broiler.
Komentar
Posting Komentar