Sistem dan manajemen agribisnis peternakan

Sistem Agribisnis Peternakan


  1.  Sistem merupakan seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentulk suatu totalitas. Contoh: di dalam tubuh ternak terdapat organ-organ tubuh antara lain hati, jantung, paru-paru, otak dan usus.
  2. Agribisnis peternakan merupakan semua kegiatan peternakan yang dimulai dari subsistem penyediaan sarana produksi ternak, proses produksi (budidaya) ternak, penanganan pasca panen, pengolahan dan subsistem pemasaran.
  3. Sistem agribisnis Peternakan merupakan keterkaitan yang saling mendukung dan tidak boleh terpotong antara kegiatan subsistem agribisnis satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk suatu totalitas.

Subsistem Agribisnis Peternakan
Saragih (1998) mengemukakan bahwa sistem agribisnis terdiri atas empat subsistem, yaitu: 
(a) subsistem agribisnis hulu atau downstream agribusiness, 
(b) subsistem agribisnis usahatani atau on-farm agribusiness, 
(c) subsistem agribisnis hilir atau upstream agribusiness, dan
(d) subsistem jasa layanan pendukung agribisnis atau supporting institution. 

1. Subsistem Agribisnis Hulu (upstream Agribusiness) 

Subsistem agribisnis hulu menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi ternak yang pada prinsipnya mencakup kegiatan: perenacanaan dan pengelolaan dari sarana produksi ternak, teknologi, sumber daya, agar penyediaan sarana produksi ternak memenuhi kriteria-kriteria berikut:
       A.  Tepat waktu
       B.  Tepat jumlah
       C. Tepat jenis
       D. Tepat mutu
       E. Tepat produk
       F. Terjangkau oleh daya beli
2. Subsistem Usahatani Ternak (on-farm agribusiness)

Subsistem usahatani ternak mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani ternak dalam rangka meningkatkan produksi utama ternak. Kegiatan-kegiatan subsistem usahatani ternak, meliputi:
a.  Pemilihan lokasi usaha tani ternak
b.  Penentuan komoditi ternak
c.  Teknologi usaha tani yang di terapkan
d.  Pola usahatani yang ideal

Pelaksanaan usahatani ternak hendaknya di tekankan pada usahatani yang intensif dan berkesinambungan, artinya meningkatkan produktifitas ternak dengan cara intensifikasi dengan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pelestarian sumber daya alam dan lingkungan.
Usaha ternak yang dipilih hendaknya juga usahatani ternak komersial artinya produk utama yang akan dihasilkan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam artian ekonomi terbuka dan bukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi konsumsi dalam artian ekonomi tertutup.

3. Subsistem Agribisnis Hilir (downstream Agribusiness)

Subsistem agribisnis hilir terdiri atas dua macam kegiatan, yaitu pengolahan komoditas primer dan pemasaran komoditas primer atau produk olahan. Kegiatan pengolahan komoditas primer adalah memproduksi produk olahan baik produk setengah jadi maupun barang jadi yang siap dikonsumsi konsumen dengan menggunakan bahan baku komoditas primer. Kegiatan ini sering juga disebut agroindustri. 
Contoh kegiatan pengolahan komoditas primer yang menghasilkan produk antara adalah pabrik pakan, industri pengolahan daging dan susu. Kegiatan pemasaran berlangsung mulai dari pengumpulan komoditas primer sampai pengeceran kepada konsumen.

4.    Subsistem Jasa Layanan Pendukung Agribisnis (Supporting Institution)

Subsistem jasa layanan pendukung atau kelembagaan penunjang agribisnis adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan ketiga subsistem agribisnis yang lain.
Subsistem jasa penununjang agribisnis keberadaannya juga sangat diperlukan bagi pengembangan usahatani ternak. Misalnya lembaga keuangan, pengembangan institusi sumber daya manusia, pengembangan organisasi ekonomi petani peternak dan pengembangan fungsi penelitian.
Hal ini diperlukan karena keberadaan lembaga-lembaga tersebut untuk melaksanakan fungsi secara total dan proporsional bagi bagi kepentingan petani peternak untuk menuju penerapan sistem agribisnis.

Pendekatan Kajian Sistem Agribisnis
  Agribisnis adalah suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubunganya dengan pertanian dalam arti luas. Sistem agribisnis merupakan totalitas atau kesatuan kinerja agribisnis yang terdiri dari subsistem agribisnis hulu yang berupa kegiatan ekonomi input produksi, informasi dan teknologi. Subsistem usaha tani yaitu kegiatan produksi pertanian primer tanaman dan hewan, subsistem agribisnis pengolahan, subsistem pemasaran dan subsistem penunjang, yaitu dukungan sarana dan prasarana serta dukungan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan agribisnis. 

Kajian mengenai sistem agribisnis dapat dilakukan dengan dua pendekatan analisis, yaitu pendekatan analisis makro dan analisis mikro.
  • Pendekatan analisis makro memandang agribisnis sebagai unit sistem industri dari suatu komoditas tertentu, yang membentuk sektor ekonomi secara regional atau nasional. 
  • Pendekatan analisis mikro memandang agribisnis sebagai suatu unit perusahaan yang bergerak baik dalam salah satu subsistem agribisnis maupun bergerak pada lebih dari satu subsistem agribisnis, baik hanya satu atau lebih subsistem dalam satu lini komoditas atau lebih dari satu lini komoditas. Kedua pendekatan analisis tersebut memiliki tekanan dan orientasi yang berbeda.

Peran Manajemen dalam
Agribisnis
Manajemen adalah suatu rangkaian proses yg
meliputi kegiatan;
• perencanaan,
• pengorganisasian,
• pelaksanaan,
• pengawasan,
• evaluasi & pengendalian
dlm rangka memberdayakan seluruh sumber dayaorganisasi, baik sumber daya manusia, modal,
material, maupun teknologi secara optimal utkm tujuan organisasi.

Ada pun masalah-masalah yang dihadapi oleh peternak, biasanya pada sistem input dan pengolahan SDM-nya. Sama halnya dengan masalah yang dialami oleh pengembangan agribisnis ternak sapi,
(Kasus Kelompok Astiti Karya di Desa Tembok, Kabupaten Buleleng) tampaknya Kelompok Peternak Astiti Karya belum mampu untuk menerapkannya secara balk. Artinya bahwa belum seluruh subsistem yang ada dalam sistem agribisnis berjalan secara balk dan saling mendukung. Melalui telaah terhadap kondisi yang terjadi di Kelompok Peternak Astiti Karya, terdapat beberapa masalah, di antaranya adalah:

(i) terbatasnya akses terhadap informasi atau teknologi; 
(ii) terbatasnya akses terhadap modal  usaha; 
(iii) lemah- nya kemampuan manajemen 
kelompok; dan
(iv) ketiadaan kemitraan usaha

Oleh karena itu, dalam pengembangan 
agribisnis ternak sapi, masih diperlukan adanya kemudahan untuk memperoleh modal usaha dengan suku bunga yang ringan karena kondisi para peternak sapi yang ada di perdesaan masih Iemah dalam aspek permodalan. Atau dengan kata lain, agribisnis ternak sapi akan dapat berkembang dengan baik apabila ada jaminan tersedianya permodalan, misalnya saja melalui pengembangan lembaga keuangan mikro. Pentingnya ketersediaan modal usaha adalah untuk tujuan mendukung adanya teknologi pengembangan ternak yang diintroduksi oleh pihak luar, seperti perbaikan pakan ternak selain menambah jumlah ternak sapi yang dikembangkan/diusahakan.
Kemampuan manajemen kelompok 
merupakan salah aspek yang berkenaan dengan kualitas sumber daya manusia (sdm). Pengelolaan atas usaha ternak sapi sangat memerlukan manajemen, seperti manajemen usahatani yang sangat memperhatikan aspek rasio antara biaya 
dan penerimaan guna dapat diperhitungkan RC ratio serta BC rationya. Selain itu, pengelolaan usahatani secara berkelompok juga sangat dibutuhkan dalam kaitannya dengan penguatan kapasitas para petani, terutama sekali dalammengakses teknologi, informasi maupun permodalan. 

Fungsi-fungsi manajemen
agribisnis :
  • Perencanaan; Semua kegitan yg ditujukan utk menyusun program kerja selama periode tertentu pada masa yg akan datang. 
  • Pengorganisasian; merupakan upaya manajemen utk mengorganisasikan semua sumber daya perusahaan untuk mencapai tujuan yg ingin dicapai. 
  • Pelaksanaan; meliputi usaha utk memimpin, mengawasi, memotivasi, mendelegasikan & menilai para karyawan yg ada dlm organisasi.
  •  Pengawasan
  • Evaluasi
  • Pengendalian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Faktor Pribadi dalam Perilaku Konsumen

Wisata Patung Budha Tidur II Trowulan Mojokerto