Manajemen Produksi dan Operasi Agribisnis Peternakan
Manajemen Produksi dan Operasi Agribisnis Peternakan
Manajemen adalah tindakan atau kegiatan merencanakan, mengorganisir, melaksanakan, mengkoordinasikan dan mengontrol untuk mencapai tujuan organisasi. Produksi adalah kegiatan untuk mengubah input menjadi output sehingga lebih berdaya guna dari pada bentuk aslinya. Produksi merupakan salah satu dari fungsi-fungsi yang ada dalam suatu lembaga.
Jadi manajemen produksi merupakan penerapan ilmu manajemen untuk mengatur kegiatan produksi atau operasi agar dapat dilakukan secara efisien. Mekasisme atau system manajemen produksi masing-masing perusahaan berbeda, namun yang pasti ada proses mengubah bentuk fisik, atau memindahkan (transportasi), menyimpan, memeriksa dan meminjamkan. Didalam suatu unit usaha dikenal adanya berbagai macam fungsi yang saling berkaitan antara yang satu dengan lainnya, diantaranya terdapat tiga fungsi pokok yang selalu dijumpai yaitu :
- Pemasaran (marketing) yang merupakan ujung tombak dari unit usaha, sebab bagian ini langsung berkaitan dengan konsumen. Keterkaitan ini dimulai dari identifikasi kebutuhan konsumen (jenis dan jumlahnya) maupun pelayanan dan pengantaran produk ketangan konsumen.
- Keuangan (finance) yang bertanggung jawab atas perolehan dana guna pembiayaan aktivitas unit usaha serta pengelolaan dana secara ekonomis sehingga kelangsungan dan perkembangan unit usaha dapat dipertahankan.
- Produksi (operasi) yang merupakan penghasil dari produk atau jasa yang akan dipasarkan kepada konsumen.
Perencanaan merupakan fungsi utama yang harus dilakukan dalam
manajemen bisnis, selanjutnya fungsi-fungsi manajemen lainnya akan
dilaksanakan dengan mendasarkan pada perencanaan yang telah dibuat. Aktivitas
perencanaan produksi yang merupakan bagian dari manajemen pengoperasian
produksi pada organisasi bisnis menurut Downey dan Erickson, (1987),
Martinich, (1996), dan Winardi, (1986) dapat dirangkum sebagai berikut :
1. Merancang produk
Karakteristik atau ciri – ciri produk yang dirancang akan mempengaruhi rancangan (design) sistem produksi dan sistem operasi. Material yang digunakan
di dalam memproduksi suatu produk tertentu akan berpengaruh terhadap tipe
mesin, peralatan yang sesuai dengan bentuk produk, bagaimana mengatur tenaga kerja sehingga dapat merangkai produk dengan baik. Sebagai contoh dalam
agribisnis peternakan merencanakan produksi telur dengan omega tiga tinggi,
telur asin, atau telur ayam ras biasa akan berbeda dalam mengelola pengoperasian
sistem produksinya. Perlu dipertimbangkan bahwa merancang produk harus
disesuaikan dengan kebutuhan dan selera konsumen.
2. Perencanaan kapasitas dan merancang proses
Para manajer operasi harus memikirkan berapa besar akan memproduksi barang/jasa dan bagaimana cara memproduksinya. Perencanaan kapasitas sangat tergantung pada sumberdaya yang dimiliki, skala ekonomi dan pasar yang
dikuasai. Rancangan proses produksi sangat krusial untuk mendukung strategi
harga produk yang dihasilkan, sedangkan penerapan teknologi akan berpengaruh
pada biaya per unit produk yang diproduksi. Namun demikian, perlu
dipertimbangkan perusahaan yang mengutamakan produk dengan harga murah dan efisien dalam proses produksi tetapi produk tidak fleksibel dan sebaliknya. Membuat keputusan dalam merancang proses produksi harus mempertimbangkan kaitan atau rangkaiannya dengan aktivitas masing-masing personel dalam sistem
manajemen bisnis, selanjutnya fungsi-fungsi manajemen lainnya akan
dilaksanakan dengan mendasarkan pada perencanaan yang telah dibuat. Aktivitas
perencanaan produksi yang merupakan bagian dari manajemen pengoperasian
produksi pada organisasi bisnis menurut Downey dan Erickson, (1987),
Martinich, (1996), dan Winardi, (1986) dapat dirangkum sebagai berikut :
1. Merancang produk
Karakteristik atau ciri – ciri produk yang dirancang akan mempengaruhi rancangan (design) sistem produksi dan sistem operasi. Material yang digunakan
di dalam memproduksi suatu produk tertentu akan berpengaruh terhadap tipe
mesin, peralatan yang sesuai dengan bentuk produk, bagaimana mengatur tenaga kerja sehingga dapat merangkai produk dengan baik. Sebagai contoh dalam
agribisnis peternakan merencanakan produksi telur dengan omega tiga tinggi,
telur asin, atau telur ayam ras biasa akan berbeda dalam mengelola pengoperasian
sistem produksinya. Perlu dipertimbangkan bahwa merancang produk harus
disesuaikan dengan kebutuhan dan selera konsumen.
2. Perencanaan kapasitas dan merancang proses
Para manajer operasi harus memikirkan berapa besar akan memproduksi barang/jasa dan bagaimana cara memproduksinya. Perencanaan kapasitas sangat tergantung pada sumberdaya yang dimiliki, skala ekonomi dan pasar yang
dikuasai. Rancangan proses produksi sangat krusial untuk mendukung strategi
harga produk yang dihasilkan, sedangkan penerapan teknologi akan berpengaruh
pada biaya per unit produk yang diproduksi. Namun demikian, perlu
dipertimbangkan perusahaan yang mengutamakan produk dengan harga murah dan efisien dalam proses produksi tetapi produk tidak fleksibel dan sebaliknya. Membuat keputusan dalam merancang proses produksi harus mempertimbangkan kaitan atau rangkaiannya dengan aktivitas masing-masing personel dalam sistem
produksi, devisi pekerjaan dan spesialisasi tenaga kerja, pemilihan peralatan dan
teknologi yang digunakan.
3. Pemilihan lokasi
Suatu perusahaan dalam menentukan lokasi pabrik paling tidak harus
mengacu pada beberapa faktor yaitu: 1) sumber bahan baku, 2) ketersediaaan
tenaga kerja, 3) lokasi pasar, dan 4) insentif khusus yang tersedia, sebagai contoh
tersedianya fasilitas umum jalan TOL dan sebagainya. Pada agribisnis peternakan
tentunya harus mempertimbangkan syarat hidup ternak dan peraturan pemerintah.
Sebagai contoh pada subsistem agribisnis budidaya ternak sapi perah harus di
lokasi dengan temperatur tertentu yang sesuai bagi kehidupan ternak.
4. Perencanaan tata letak/ Lay out dan fasilitasnya
Perencanaan tata letak pabrik pada dasarnya berguna untuk mempermudah
dalam hal penanganan bahan baku/sumberdaya dan proses produksi. . Aktivitas produksi suatu industri secara
normal akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang sehingga
perencanaan tata letak ini apabila tidak tepat akan menyebabkan kerugian yang
tidak kecil. Pengaturan tata letak pabrik yang baik akan memberikan manfaat
dalam sistem produksi, antara lain:
1) Meningkatkan output produksi per satuan unit input,
2) Mengurangi waktu tunggu,
3) Mengurangi proses pemindahan bahan,
4) Penghematan penggunaan area (produksi, gudang, service, dan sebagainya)
5) Peningkatan pendaya gunaan pemakaian mesin, tenaga kerja, dan fasilitas
produksi,
6) Mengurangi kemacetan dan kesimpang siuran aktivitas dalam proses produksi.
5. Menyusun tugas dan mengorganisasikan tugas
Pemilihan proses produksi secara langsung mempengaruhi jumlah dan tingkat
kemampuan personel yang dibutuhkan. Beberapa masalah utama yang dihadapi
manajer di bagian ini adalah membangun dan menggunakan standard kerja,
mengorganisasi pekerjaan, peranan masing-masing personel agar dapat
menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Sebagai contoh dalam menyusun
tugas, berapa banyak tugas dan tanggung jawab sebuah tugas untuk seorang
personel.
6. Koordinasi sumberdaya produksi dan permintaan
Manajer dapat mengambil langkah operasi jangka pendek yang efisien dibanding perencanaan jangka menengah yang telah dibuat sebelumnya untuk mengantisipasi penyesuaian sumberdaya produksi dengan adanya perubahan permintaan produk. Sebagai contoh, dengan cara mengkoordinasi kembali personel yang ada, atau dengan menyewa/ menambah tenaga kerja, pelatihan, lembur, penjadwalan kembali proses produksi dan sub kontrak pekerjaan yang
disesuaikan dengan permintaan konsumen.
7. Perencanaan penjaminan mutu produk
Organisasi bisnis harus mempunyai pemikiran bahwa mutu produk yang
dihasilkan merupakan komponen dari strategi. Namun demikian mutu produk
yang dihasilkan berhubungan dengan biaya yang dibutuhkan. Oleh karena itu
dalam dalam rangka menjamin mutu produk dengan biaya yang dapat dihemat
harus mempertimbangkan (1) design produk, (2) tipe peralatan yang digunakan,
(3) cara merawat peralatan, (4) kualitas dan pelatihan para pekerja, (5) kualitas
dan penanganan bahan baku, dan (6) prosedur pengujian dan evaluasi mutu
produk.
8. Mengelola material dan penyimpanan
Dalam jangka pendek manajer operasi harus selalu memikirkan pengelolaan
material dan penyimpanan, penjadwalan operasi dan personelnya. Dalam hal ini,
manajer harus membuat perencanaan tentang material apa yang harus dibeli, dari mana suplai nya/penjualnya, kapan membelinya, dan bagaimana cara
membelinya. Dalam agribisnis peternakan sebagai penghasil pangan dimana sifat
bahan baku maupun produknya secara relatif mudah rusak, maka perencanaan
penggunaan material/bahan baku harus dipertimbangkan pengelolaannya terhadap bahan baku maupun produk yang mudah rusak tersebut. Sebagai contoh produk peternakan dengan bahan baku yang mudah rusak, misalnya susu segar diolah menjadi susu
pasteurisasi.
9. Penjadwalan personel, peralatan dan pekerjaan
Kegiatan manajemen disisni meliputi penjadwalan personel, penggunaan
mesin-mesin, tugas-tugas dalam proses produksi. Perencanaan penjadwalan
personel, penggunaan peralatan dan pekerjaan yang tepat akan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam penghematan biaya produksi.
teknologi yang digunakan.
3. Pemilihan lokasi
Suatu perusahaan dalam menentukan lokasi pabrik paling tidak harus
mengacu pada beberapa faktor yaitu: 1) sumber bahan baku, 2) ketersediaaan
tenaga kerja, 3) lokasi pasar, dan 4) insentif khusus yang tersedia, sebagai contoh
tersedianya fasilitas umum jalan TOL dan sebagainya. Pada agribisnis peternakan
tentunya harus mempertimbangkan syarat hidup ternak dan peraturan pemerintah.
Sebagai contoh pada subsistem agribisnis budidaya ternak sapi perah harus di
lokasi dengan temperatur tertentu yang sesuai bagi kehidupan ternak.
4. Perencanaan tata letak/ Lay out dan fasilitasnya
Perencanaan tata letak pabrik pada dasarnya berguna untuk mempermudah
dalam hal penanganan bahan baku/sumberdaya dan proses produksi. . Aktivitas produksi suatu industri secara
normal akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang sehingga
perencanaan tata letak ini apabila tidak tepat akan menyebabkan kerugian yang
tidak kecil. Pengaturan tata letak pabrik yang baik akan memberikan manfaat
dalam sistem produksi, antara lain:
1) Meningkatkan output produksi per satuan unit input,
2) Mengurangi waktu tunggu,
3) Mengurangi proses pemindahan bahan,
4) Penghematan penggunaan area (produksi, gudang, service, dan sebagainya)
5) Peningkatan pendaya gunaan pemakaian mesin, tenaga kerja, dan fasilitas
produksi,
6) Mengurangi kemacetan dan kesimpang siuran aktivitas dalam proses produksi.
5. Menyusun tugas dan mengorganisasikan tugas
Pemilihan proses produksi secara langsung mempengaruhi jumlah dan tingkat
kemampuan personel yang dibutuhkan. Beberapa masalah utama yang dihadapi
manajer di bagian ini adalah membangun dan menggunakan standard kerja,
mengorganisasi pekerjaan, peranan masing-masing personel agar dapat
menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Sebagai contoh dalam menyusun
tugas, berapa banyak tugas dan tanggung jawab sebuah tugas untuk seorang
personel.
6. Koordinasi sumberdaya produksi dan permintaan
Manajer dapat mengambil langkah operasi jangka pendek yang efisien dibanding perencanaan jangka menengah yang telah dibuat sebelumnya untuk mengantisipasi penyesuaian sumberdaya produksi dengan adanya perubahan permintaan produk. Sebagai contoh, dengan cara mengkoordinasi kembali personel yang ada, atau dengan menyewa/ menambah tenaga kerja, pelatihan, lembur, penjadwalan kembali proses produksi dan sub kontrak pekerjaan yang
disesuaikan dengan permintaan konsumen.
7. Perencanaan penjaminan mutu produk
Organisasi bisnis harus mempunyai pemikiran bahwa mutu produk yang
dihasilkan merupakan komponen dari strategi. Namun demikian mutu produk
yang dihasilkan berhubungan dengan biaya yang dibutuhkan. Oleh karena itu
dalam dalam rangka menjamin mutu produk dengan biaya yang dapat dihemat
harus mempertimbangkan (1) design produk, (2) tipe peralatan yang digunakan,
(3) cara merawat peralatan, (4) kualitas dan pelatihan para pekerja, (5) kualitas
dan penanganan bahan baku, dan (6) prosedur pengujian dan evaluasi mutu
produk.
8. Mengelola material dan penyimpanan
Dalam jangka pendek manajer operasi harus selalu memikirkan pengelolaan
material dan penyimpanan, penjadwalan operasi dan personelnya. Dalam hal ini,
manajer harus membuat perencanaan tentang material apa yang harus dibeli, dari mana suplai nya/penjualnya, kapan membelinya, dan bagaimana cara
membelinya. Dalam agribisnis peternakan sebagai penghasil pangan dimana sifat
bahan baku maupun produknya secara relatif mudah rusak, maka perencanaan
penggunaan material/bahan baku harus dipertimbangkan pengelolaannya terhadap bahan baku maupun produk yang mudah rusak tersebut. Sebagai contoh produk peternakan dengan bahan baku yang mudah rusak, misalnya susu segar diolah menjadi susu
pasteurisasi.
9. Penjadwalan personel, peralatan dan pekerjaan
Kegiatan manajemen disisni meliputi penjadwalan personel, penggunaan
mesin-mesin, tugas-tugas dalam proses produksi. Perencanaan penjadwalan
personel, penggunaan peralatan dan pekerjaan yang tepat akan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam penghematan biaya produksi.
Dalam agrobisnis peternakan ada dua tipe sistem produksi, yaitu:
(1) continuous/ berkesinambungan dan
(2) terputus-putus/ all in all out.
Berkesinambungan Dalam sistem produksi yang berkesinambungan, arus
masukan input berlangsung terus melalui sistem yang distandarisasi guna
menghasilkan keluaran yang sama. Sebagai contoh pada sub sistem sarana
produksi ( pabrik pakan ternak) melakukan aktivitas dengan arus bahan
baku/input yang berlangsung terus untuk menghasilkan pakan konsentrat, pada
sub sistem budidaya ayam ras petelur dimana para peternak melakukan sistem
peremajaan sehingga menghasilkan telur secara kontinyu dengan jumlah yang
hampir sama.
Terputus-putus Proses produksi yang melibatkan masukan dan keluaran yang
berbeda-beda. Sebagai gambaran dalam subsitem budidaya peternakan dikenal
sebagai sistem produksi all in all out. Seperti pada subsistem budidaya ayam
petelur/pedaging dengan jumlah bibit 10.000 ekor setelah selesai dalam satu
periode produksi, kemudian baru memasukkan ayam kembali tanpa menggunakan sistem peremajaan tertentu yang menyebabkan penggunaan jumlah input dan outputnya tidak sama. Umumnya sistem produksi berkesinambungan lebih
menjamin dalam melayani pasar dibanding sistim terputus-putus.
Study kasus peternak ayam pedaging
Desa Nongkosawit merupakan wilayah Kelompok Tani Ternak dengan mayoritas berternak ayam pedaging. Desa Nongkosawit termasuk salah satu di antara desa - desa yang berada di wilayah Kecamatan Gunungpati yang letaknya kurang lebih 15 km dari Ibukota Kota Semarang. Desa Nongkosawit merupakan desa Agrowisata karena selain terdapat KTT ayam broiler didesa tersebut juga terdapat KTT untuk sapi perah, ayam petelur, budidaya buah dan memiliki adat istiadat yang unik. Kurangnya pengetahuan peternak tentang sanitasi dan pencegahan penyakit serta sistem perkandangan yang kurang menyebabkan penurunan produktivitas. Pengetahuan peternak mengenai aspek tersebut masih harus ditingkatkan sehingga dapat meningkatkan produktivitas ayam broiler.
(1) continuous/ berkesinambungan dan
(2) terputus-putus/ all in all out.
Berkesinambungan Dalam sistem produksi yang berkesinambungan, arus
masukan input berlangsung terus melalui sistem yang distandarisasi guna
menghasilkan keluaran yang sama. Sebagai contoh pada sub sistem sarana
produksi ( pabrik pakan ternak) melakukan aktivitas dengan arus bahan
baku/input yang berlangsung terus untuk menghasilkan pakan konsentrat, pada
sub sistem budidaya ayam ras petelur dimana para peternak melakukan sistem
peremajaan sehingga menghasilkan telur secara kontinyu dengan jumlah yang
hampir sama.
Terputus-putus Proses produksi yang melibatkan masukan dan keluaran yang
berbeda-beda. Sebagai gambaran dalam subsitem budidaya peternakan dikenal
sebagai sistem produksi all in all out. Seperti pada subsistem budidaya ayam
petelur/pedaging dengan jumlah bibit 10.000 ekor setelah selesai dalam satu
periode produksi, kemudian baru memasukkan ayam kembali tanpa menggunakan sistem peremajaan tertentu yang menyebabkan penggunaan jumlah input dan outputnya tidak sama. Umumnya sistem produksi berkesinambungan lebih
menjamin dalam melayani pasar dibanding sistim terputus-putus.
Study kasus peternak ayam pedaging
Desa Nongkosawit merupakan wilayah Kelompok Tani Ternak dengan mayoritas berternak ayam pedaging. Desa Nongkosawit termasuk salah satu di antara desa - desa yang berada di wilayah Kecamatan Gunungpati yang letaknya kurang lebih 15 km dari Ibukota Kota Semarang. Desa Nongkosawit merupakan desa Agrowisata karena selain terdapat KTT ayam broiler didesa tersebut juga terdapat KTT untuk sapi perah, ayam petelur, budidaya buah dan memiliki adat istiadat yang unik. Kurangnya pengetahuan peternak tentang sanitasi dan pencegahan penyakit serta sistem perkandangan yang kurang menyebabkan penurunan produktivitas. Pengetahuan peternak mengenai aspek tersebut masih harus ditingkatkan sehingga dapat meningkatkan produktivitas ayam broiler.
Komentar
Posting Komentar