Analisis permasalahan rantai pasok peternakan
Analisis Rantai Pasok Daging Sapi Dari Rumah Pemotongan Hewan Ciawitali Sampai Konsumen Akhir Di Kota Garut
Daging sapi merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan protein hewani masyarakat, serta komoditas ekonomi yang mempunyai nilai sangat strategis. Dikabupaten garut pemenuhan daging sapi tidak tergantung pasokan impor, hal tersebut terlihat dari data pada tahun 2012 bahwa pasokan daging sapi lokal sebanyak 100% (2.097.236 kg) .
terkadang terjadi kenaikan harga sehingga banyak pedagang yang gulung tikar yang berdampak negatif untuk perekonomian setempat. Harga eceran komoditas sangat tergantung pada efisiensi dari kegiatan distribusi. Efisiensi kegiatan distribusi komoditas sangat dipengaruhi oleh panjang mata rantai distribusi dan besarnya margin keuntungan yang ditetapkan oleh setiap mata rantai distribusi.
Semakin pendek mata rantai distribusi dan semakin kecil margin keuntungan, maka kegiatan distribusi tersebut semakin efisien. Harga daging di tingkat pengecer atau konsumen sangat ditentukan oleh harga pokok (di tingkat produsen), biaya penambahan nilai, biaya transaksi, keuntungan lembaga yang terlibat dan keseimbangan permintan dan penawaran.
Pada jurnal ini peneliti melakukan penelitian melalui 3 resopnden:.
- Pedagang besar adalah pedagang yang membeli daging sapi langsung dari jagal di Rumah Pemotongan Hewan Ciawitali dalam jumlah banyak ( 200 - 1200 kg/hari) untuk dijual langsung ke pedagang pengecer atau konsumen.
- Pedagang pengecer adalah pedagang yang membeli daging sapi dari pedagang besar untuk dijual langsung ke konsumen sebanyak 25 – 150 kg/hari.
- Konsumen adalah orang yang secara langsung mengonsumsi produk, baik bagi kepentingan diri sendiri, orang lain, maupun makhluk hidup lain sebanyak 1-30 kg/hari.
faktor kunci untuk mengoptimalkan rantai pasokan dengan menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat antara jaringan atau mata rantai tersebut dan pergerakan barang yang efektif, efisien dan responsif terhadap perubahan permintaan kosumen sehingga menghasilkan kepuasan maksimal pada konsumen. Faktor yang mempengaruhi kinerja dari rantai pasok adalah pergudangan (inventory), transportasi (transportation), fasilitas (facilities) dan informasi (information).
Hal ini erat kaitannya dengan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) sebagai penyedia jasa yang mendukung terjaminnya penyediaan daging ternak potong secara teratur dan memadai.
Adapun pola rantai pasok daging sapi di Kabupaten Garut diawali dari
peternak besar (feedlot) menuju peternak penggemukan atau langsung dijual ke penjual besar. Sebanyak 75% pedagang besar mendapat pasokan sapi dari peternak penggemukkan dengan dan 25% lainnya diambil langsung dari peternak beasr (feedlot). Feedlot hanya berkonsentrasi pada pembibitan sehingga untuk mendapatkan sapi dalam kondisi siap potong, pedagang besar lebih memilih membeli kepada petrenak penggemukkan. Pedagang besar kemudian menjual atau mengirimkan sapi siap potong ke RPH Ciawitali, ada pula sebagian pedagang besar yang melakukan proses pemotongan sendiri dengan menyewa petugas pemotongan yang ada di RPH Ciawitali. Hal ini dikarnakan kapasitas RPH Ciawitali yang kecil sehingga kurang bisa memberikan pelayanan yang maksimal untuk proses pemotongan hewan ternak.
Biaya penjualan dari RPH ke pedagang besar berkisar Rp. 75.000,00 - Rp. 90.000,00, sedangkan pedagang besar menjualnya ke pedagang pengecer sebesar Rp. 86.000,00 - Rp. 97.000,00 dan harga juala pedagang pengecer ke konsumen berkisar Rp. 90.000,00 – Rp. 100.000,00. Margin yang diperoleh pedagang besar sebesar Rp. 7.000,00 – Rp. 11.000,00 dan pedagang pengecer sebesar Rp. 3.000,00 – Rp. 4.000,00. Variabel utama yang menyebabkan terjadinya margin harga adalah variabel luas area dan sebaran yang tidak merata yang menyebabkan terjadinya ongkos pengangkutan yang begitu besar sehingga berdampak cukup besar terhadap tata perniagaan sapi.
Koordinasi Distribusi Rantai Pasokan AyamP Pedaging(Studi Kasus Pada Peternakan Ayam Desa
Tounelet Satu Kecamatan Sonder
Kabupaten Minahasa)
Peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian adalah. Kegiatan usaha yang menarik dikaji di subsektor peternakan ini adalah usaha agribisnis ayam ras pedaging (ayam broiler). Prospek pasar dan pengembangan agribisnis ayam ras pedaging di Indonesia baik pada subsistem hulu, subsistem budidaya, maupun subsistem hilir sangat terbuka lebar. Jumlah penduduk Indonesia yang terus-menerus bertambah setiap tahunnya menyebabkan semakin meningkatnya tingkat konsumsi pangan khususnya daging ayam, sehingga produksi ayam ras pedaging terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun dan menjadikan industri peternakan sebagai pangsa pasar yang menarik.
Pengembangan agribisnis peternakan ayam daging (broiler) yang ada di Desa Tounelet Satu merupakan salah satu basis pengembangan ekonomi rakyat yang berpotensi menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan sebagai usaha ekonomi yang berperan mengatasi pengangguran dan peningkatan pendapatan rumah tangga (RT) dipedesaan serta merupakan salah satu agribisnis yang memiliki nilai strategis khususnya industri yang memiliki komponen lengkap dari sisi hulu sampai hilir.
Pihak-pihak yang terlibat dalam koordinasi aliran distribusi rantai pasokan ayam pedaging di peternakan ayam Desa Tounelet Satu Kecamatan Sonder adalah: Pemilik peternakan selaku peternak; perusahaan mitra yang melakukan kerja sama dengan peternak dan pemborong dan sebagai perantara antara peternak dan pemborong serta sebagai perusahaan penyedia hasil produksi peternakan berupa ayam pedagingm bibit ayam, pakan dan obat-obatan. Pemborong mitra yaitu yang melakukan kerja sama dengan perusahaan dan membeli ayam pedaging melalui perusahaan. Pembeli, termasuk pembeli disini antara lain pedagang pemborong yaitu yang membeli dalam jumlah banyak kepada pemborong mitra dan menjualnya kembali dalam bentuk borong maupun ecerean, pedagang pengecer, rumah makan dan super market/swalayan. Konsumen yaitu pembeli akhir yang membeli ayam pedaging baik dalam bentuk daging ayam maupun sudah diolah menjasi aneka jenis makanan untuk dikonsumsi.
Koordinasi aliran distribusi rantai pasokan ayam pedaging di peternakan ayam Desa Tounelet Satu yaitu sebagai berikut:
Pelaku dalam model koordinasi distribusi rantai pasokan ayam pedaging di peternakan ayam Desa Tounelet Satu terdiri dari peternak, perusahaan mitra, pemborong, pedagang pemborong, pedagang pengecer, rumah makan, supermarket/swalayan dan konsumen. Model distribusi rantai pasok produk ayam pedaging peternak di Desa Tounelet Satu sudah menujukkan sebuah jaringan yang kompleks, tetapi harus lebih diperhatikan lagi akan setiap fungsi dari setiap komponen yang ada agar dapat menciptakan suatu aliran distribusi rantai pasokan yang lebih pendek, efektif dan efisien sehingga setiap pihak yang terlibat didalamnya akan mendapatkan tingkat keuntugan yang sama dan sesuai.
Koordinasi aliran rantai pasok dan sistem produksi hulu sampai hilir untuk produk peternakan yaitu ayam pedaging (ayam broiler) dari peternakan ayam Desa Tounelet Satu saling berkoordinasi, baik antara peternak dengan pihak perusahaan maupun antara perusahaan dengan pemborong, dan pemborong dengan mitra kerja mereka hingga sampai ke konsumen. Koordinasi distribusi rantai pasokan ayam pedaging yang terjadi dimana setiap mitra kerja dari pemborong mengkoordinasikan seluruh kebutuhan mereka kepada pemborong, kemudian pemborongmengkoordinasikan permintaan kebutuhan mereka kepada perusahaan, selanjutnya perusahaan akan berkoordinasi dengan peternak untuk memenuhi seluruh permintaan kebutuhan ayam pedaging dari pemborong.
Sebaliknya, peternak juga akan mengkoordiansikan hasilproduksi peternakan mereka kepada perusahaan sehingga dengan demikian setiap pihak yang terlibat dalam distribusi rantai pasokan ayam pedaging tersebut saling berkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan setiap anggota rantai yang terlibat.
Rantai Pasokan Dalam Meningkatkan Pendapatan
Peternak Ayam Potong
Meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk dari tahun ke tahun menjadikan kebutuhan pangan juga ikut meningkat. Pemenuhan kebutuhan pangan tersebut tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan pangan pokok seperti karbohidrat, akan tetapi juga pemenuhan pangan pokok lain seperti protein. Pemenuhan kebutuhan protein masyarakat dapat dipenuhi dengan meningkatkan konsumsi protein nabati maupun protein hewani.
Jawa Barat merupakan penyumbang terbanyak dalam memproduksi ayam broiler. Peternakan ayam broiler pada umumnya tidak melakukan usaha secara mandiri, meskipun ada perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pembudidayaan ayam potong tetapi peternak yang ada di Indonesia kebanyakan masih bersifat tradisional sehingga masih membutuhkan bantuan pihak lain.
Rantai pasokan menjadi salah satu cara agar peternak atau pengusaha ayam potong bias berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan pendapatan bagi pengusaha itu sendiri, rantai pasok akan sangat berpengaruh pada pendistribusian barang atau ayam potong tersebut agar sampai pada pemakai akhir yaitu konsumen.
PT Alam Raya Merta Utama Unit Usaha Alam Raya PS berdasarkan informasi dari para informan.
Berdasarkan hasil penelitian, rantai pasokan yang di terapkan di PT Alam Raya Merta Utama Unit Usaha Alam Raya PS untuk memperoleh rantai pasokan yang tepat adalah dengan menggunakan metode upstream supply chain, internal supply chain dan downstream supply chain untuk memperoleh produksi ayam potong yang tepat dan bagus agar terhindar dari kesalahan pada produksi pada saat akan di pasarkan kepada konsumen.
Proses pemasaran peternak ayam dengan sistem komputerisasi dan sistem pesan antar dalam penjualannya hingga penyampaiannya kepada supplier dan disalurkan kepada konsume. Dengan demikian penerapan rantai pasokan dapat meningkatkan pendapatan peternak ayam potong sehingga tetap bisa bertahan dalam ketatnya persaingan dengan perusahaan sejenis.
Komentar
Posting Komentar