Kebun Sayur Surabaya (Kebun Sayur Hidroponik)
Kebutuhan sayur segar dan menyehatkan bagi warga kelas menengah di Surabaya, menjadi salah satu alasan yang mendorong berdirinya “Kebun Sayur Surabaya” pada tahun 2014. 
Hal lain yang melatarbelakangi berdirinya Kebun Sayur Surabaya adalah, pada saat seseorang mendirikan resto yang membutuhkan banyak sayur segar. Di mana pasokan sayur tersebut sering kali jumlahnya tidak sesuai yang dibutuhkan. Karena saat itu mencari sayur segar agak sulit. Mengingat waktu pengiriman sayur dari produsen di perdesaan ke konsumen di kota, membutuhkan waktu lumayan lama dan itu berdampak pada kesegaran sayur yang dikirim. 
Untuk menanam di kota besar seperti Surabaya, kendalanya adalah ketersediaan lahan subur dan iklim yang tidak mendukung. Setelah mencari berbagai informasi, akhirnya mereka mendapatkan solusi untuk bertanam dengan sistem hodroponik. Saat itu, kata Mehdy, di Jakarta dan beberapa daerah di Jawa Barat sudah banyak kebun hidroponik. Tapi di Surabaya masih belum ada kebun hidroponik dalam skala industri.
“Akhirnya ke Jakarta untuk belajar bagaimana membudidayakan sayur dengan sistem hidroponik. Setelah belajar akhirnya kami memberanikan diri untuk membuat kebun hidroponik. Padahal basic pendidikan bukan pertanian.
              Modal pertama sebesar Rp. 200 juta, sudah termasuk pengadaan rak dan berbagai peralatan penunjang dan biaya pembelian benih. Semula ragu apakah nantinya bisa berhasil menanam sayur dengan sistem hidroponik, sehingga pada masa saat penanaman mereka tidak berani untuk mempromosikan ke pasar terlebih dahulu karena dari segi kualitas sayur belum bisa terlihat. “Ternyata setelah panen pertama berhasil, berbagai jenis sayur-mayur itu tumbuh dengan subur. Tapi menjualnya tidah mudah. Awalnya tidak banyak orang mengenal hasil kebun hidroponik, sehingga sering bertanya apakah sayurnya aman untuk dikonsunsi atau tidak.
                Dapat meyakinkan konsumen, kendala berikutnya adalah harga. pada saat itu mereka tidak mau menjual dengan harga yang sama dengan Surabaya, karena produk yang di buat punya beberapa kelebihan. Selain bisa memasok setiap hari, sayur juga lebih tahan lama dan variasinya banyak. Akhirnya setelah mempertimbangkan beberapa faktor mereka mendapatkan harga setengah dari harga sayur di Jakarta.
Seiring berjalannya waktu, permintaan sayur dari kebun mereka meningkat. Saat ini ada 20 hotel dan restoran yang menjadi konsumen mereka dengan total penjualan 4 ton per bulan. Karena hasil kebun sendiri tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan pasar, mereka merangkul mitra produksi.
Saat ini ada 10 kebun hidroponik dari berbagai daerah di Jawa Timur yang menjadi mitra produksi mereka. “Mitra kami selain dari Surabaya, juga ada yang dari Batu, Jember, Mojokerto, bahkan dari Bali. Karena sayur hidroponik relatif tahan lama, tidak ada masalah dengan waktu pengiriman. 
Selain tahan lama, sayur hidroponik lebih segar dan lebih krenyes. “Sayur hidroponik meskipun tidak bisa dikatakan sebagai bebas pestisida, tapi penggunaan zat kimia itu dilakukan seminimal mungkin. Untuk budidaya harus memperhatikan 3 faktor yang harus dipenuhi : 

  • Passion 

Jika kita lakukan pekerjaan dengan passion, tidak akan mudah menyerah jika menghadapi masalah.

  • Skill 

Harus memiliki skiil yang bisa menguasai berapa ilmu dan harus selalu update ilmu terbaru.

  • Pasar

Kita harus sadar tentang pasar, melihat apa yang diinginkan pasar. Seperti misalnya di Jawa barat lagi ngetren bunga yang bisa dimakan atau edible flower.

Teknik Penanaman Di Kebun Sayur Surabaya
             Sayuran hidroponik yang dibudidayakan Kebun Sayur Surabaya menjadi langganan dari supermarket, hotel, dan restoran setempat karena memiliki kualitas tersendiri. Hal ini disampaikan manager Kebun Sayur Surabaya, Mehdy Riza.
Teknik yang digunakan di Kebun Sayur Surabaya yaitu Nutrient Film Technique (NFT). Teknik ini mengalirkan nutrisi yang terlarut dalam air tanpa menggunakan timer dengan pompa secara terus menerus. Nutrisi mengalir ke dalam gully melewati akar-akar tumbuhan kemudian kembali ke penampungan air. Teknik yang digunakan cocok untuk wilayah Surabaya yang cuacanya panas.
Awal dari pembuatan kebun hidroponik ini karena banyak hotel, restoran dan supermarket di Surabaya membutuhkan pemasok sayur-sayur yang segar dan tentunya berkualitas. Kebun sayur Surabaya dibuka mulai tahun 2014 dengan luas 600 meter persegi bisa menghasilkan 20-25 kg per hari. Untuk harga selada per kilogram dijual dengan harga Rp. 50.000. 
             Sumber daya manusia yang di pakai menggunakan SDM masyarakat awam yang belum mengenal apa itu hidroponik sehingga pemilik kebun sayur Surabaya harus melakukan pelatihan terlebih dahulu sebelum melakukan budidaya.  Kebun sayur Surabaya  selain untuk budidaya hidroponik juga membuka sebagai sarana wisata dan sarana edukasi bagi yang berkunjung ke tempat kebun sayur Surabaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Faktor Pribadi dalam Perilaku Konsumen

Wisata Patung Budha Tidur II Trowulan Mojokerto